Remarketing vs Retargeting: Apa Bedanya dan Kapan Menggunakannya?
Di dunia pemasaran digital modern, banyak istilah yang terdengar mirip tetapi ternyata memiliki fungsi berbeda. Salah satu pasangan istilah yang paling sering membuat bingung adalah “remarketing” dan “retargeting”. Keduanya sama-sama bertujuan membawa kembali calon pelanggan yang pernah berinteraksi dengan bisnis. Namun, cara kerja, media yang digunakan, hingga strategi penerapannya ternyata tidak benar-benar sama. Remarketing vs Retargeting menjadi dua strategi digital marketing yang semakin populer karena mampu membantu bisnis mengingatkan kembali calon pelanggan yang pernah berinteraksi dengan produk atau layanan tertentu.
Menariknya lagi, banyak pelaku bisnis kecil hingga perusahaan besar menggunakan kedua strategi ini secara bersamaan tanpa memahami perbedaannya secara mendalam. Akibatnya, anggaran iklan sering terbuang, audiens merasa terganggu, dan konversi tidak meningkat secara signifikan.
Padahal, ketika dipahami dengan benar, keduanya dapat menjadi senjata yang sangat efektif untuk meningkatkan penjualan, memperkuat hubungan dengan pelanggan, dan menjaga merek tetap diingat. Oleh karena itu, memahami kapan harus memakai remarketing dan kapan harus memakai retargeting menjadi hal penting dalam strategi digital marketing modern.
Strategi Digital Modern
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa kedua istilah ini sebenarnya berasal dari tujuan yang sama: menghubungi kembali orang-orang yang sebelumnya sudah mengenal bisnis atau produk tertentu.
Namun, seiring berkembangnya platform digital, istilah tersebut mulai memiliki makna yang lebih spesifik.
Secara sederhana:
- Retargeting biasanya berfokus pada iklan berbayar yang ditampilkan kepada orang yang pernah mengunjungi website atau berinteraksi dengan konten tertentu.
- Remarketing lebih sering mengacu pada upaya membangun kembali hubungan dengan pelanggan melalui email, pesan, atau komunikasi lanjutan lainnya.
Meskipun demikian, di beberapa platform pemasaran digital, kedua istilah ini kadang digunakan secara bergantian. Inilah yang membuat banyak orang salah memahami konsep dasarnya.
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan ada seseorang yang mengunjungi toko online sepatu tetapi tidak jadi membeli. Setelah itu:
- Ia melihat iklan sepatu yang sama saat membuka media sosial. Itu termasuk retargeting.
- Beberapa hari kemudian ia menerima email berisi diskon khusus untuk sepatu tersebut. Itu termasuk remarketing.
Keduanya mengejar orang yang sama, tetapi dengan pendekatan berbeda.
Remarketing vs Retargeting dan Cara Kerjanya
Walaupun tujuannya mirip, proses kerja keduanya memiliki mekanisme yang berbeda.
Cara Kerja Retargeting
Retargeting biasanya mengandalkan cookie browser atau pixel tracking. Ketika seseorang mengunjungi website, sistem akan menyimpan data perilaku pengguna tersebut.
Setelah itu, platform iklan seperti Google Ads atau Meta Ads akan menggunakan data tersebut untuk menampilkan iklan relevan kepada pengguna saat mereka membuka website lain, YouTube, media sosial, atau aplikasi tertentu.
Karena itu, seseorang bisa merasa “diikuti” oleh produk yang sebelumnya pernah ia lihat.
Misalnya:
- Pengguna melihat laptop gaming di sebuah e-commerce
- Ia keluar tanpa membeli
- Kemudian iklan laptop tersebut muncul terus di Instagram, Facebook, bahkan situs berita
Itulah retargeting bekerja secara nyata.
Strategi ini sangat efektif karena target audiensnya sudah memiliki minat awal. Mereka bukan orang asing yang belum pernah mengenal produk.
Cara Kerja Remarketing
Remarketing lebih sering menggunakan data pelanggan yang sudah dimiliki bisnis, seperti:
- alamat email,
- nomor telepon,
- riwayat pembelian,
- atau daftar pelanggan lama.
Setelah data dikumpulkan, perusahaan akan mengirimkan komunikasi lanjutan yang lebih personal.
Contohnya:
- email keranjang belanja yang belum dibayar,
- promo ulang tahun pelanggan,
- rekomendasi produk berdasarkan pembelian sebelumnya,
- atau penawaran khusus pelanggan lama.
Pendekatan ini terasa lebih personal karena berbasis hubungan yang sudah pernah terbentuk sebelumnya.
Selain itu, remarketing biasanya dipakai untuk menjaga loyalitas pelanggan dalam jangka panjang, bukan hanya mengejar klik cepat.
Remarketing vs Retargeting dari Sisi Tujuan Marketing
Walaupun keduanya membantu meningkatkan penjualan, fokus utamanya tidak selalu sama.
Retargeting Lebih Fokus pada Konversi Cepat
Retargeting biasanya dipakai untuk:
- mengingatkan calon pembeli,
- mendorong transaksi,
- meningkatkan conversion rate,
- dan mengurangi cart abandonment.
Karena audiens sudah pernah tertarik, iklan retargeting sering menghasilkan biaya konversi yang lebih rendah dibanding iklan biasa.
Namun, strategi ini juga memiliki risiko. Jika iklan terlalu sering muncul, audiens bisa merasa terganggu. Bahkan ada istilah “ad fatigue”, yaitu kondisi ketika orang mulai jenuh melihat iklan yang sama terus-menerus.
Oleh sebab itu, frekuensi tayang harus diatur dengan baik.
Remarketing Lebih Fokus pada Relasi dan Loyalitas
Sementara itu, remarketing sering dipakai untuk:
- menjaga hubungan pelanggan,
- meningkatkan repeat order,
- membangun loyalitas,
- dan memperpanjang customer lifetime value.
Karena sifatnya lebih personal, remarketing sering menghasilkan hubungan yang lebih kuat antara merek dan pelanggan.
Strategi ini sangat efektif untuk bisnis yang mengandalkan pelanggan jangka panjang, seperti:
- SaaS,
- kursus online,
- membership,
- layanan langganan,
- hingga toko online dengan pembelian berulang.
Remarketing vs Retargeting dalam Funnel Penjualan
Dalam funnel marketing, keduanya biasanya digunakan di tahap yang berbeda.
Retargeting Cocok di Tahap Pertimbangan
Saat seseorang baru mengenal produk, mereka biasanya masih membandingkan banyak pilihan.
Di tahap ini, retargeting membantu menjaga produk tetap muncul di hadapan calon pembeli.
Tujuannya agar mereka tidak lupa.
Karena itulah retargeting sangat efektif untuk:
- pengunjung website,
- penonton video produk,
- pengguna yang klik iklan,
- atau orang yang pernah melihat halaman produk tertentu.
Retargeting membantu memperpendek waktu pengambilan keputusan.
Remarketing Cocok Setelah Hubungan Terbentuk
Remarketing biasanya digunakan setelah pengguna memberikan data atau pernah melakukan transaksi.
Misalnya:
- pelanggan lama,
- subscriber email,
- pengguna aplikasi,
- atau member komunitas.
Di tahap ini, bisnis tidak hanya ingin menjual sekali. Mereka ingin membangun hubungan yang lebih panjang.
Karena itu, remarketing lebih banyak memakai pendekatan edukatif, personal, dan berbasis pengalaman pelanggan.
Remarketing vs Retargeting dari Segi Biaya
Banyak orang mengira keduanya membutuhkan biaya besar. Padahal, efektivitasnya justru sering lebih tinggi dibanding iklan biasa.
Namun, struktur biayanya berbeda.
Retargeting Mengandalkan Anggaran Iklan
Retargeting hampir selalu membutuhkan biaya iklan.
Semakin kompetitif industrinya, semakin mahal biaya penayangan iklan.
Selain itu, kualitas visual iklan juga sangat memengaruhi performa. Jika desain buruk atau copywriting tidak menarik, hasilnya bisa mengecewakan.
Karena itu, retargeting membutuhkan kombinasi:
- data tracking,
- strategi audiens,
- desain iklan,
- dan optimasi kampanye.
Remarketing Lebih Banyak Bergantung pada Database
Remarketing lebih murah dalam jangka panjang jika bisnis sudah memiliki database pelanggan yang besar.
Email marketing, misalnya, memiliki biaya relatif rendah tetapi dapat menghasilkan ROI tinggi jika dilakukan dengan benar.
Namun, tantangannya ada pada kualitas komunikasi.
Jika isi email membosankan, terlalu sering promosi, atau tidak relevan, pelanggan bisa berhenti berlangganan.
Karena itu, remarketing membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi dan personal.
Remarketing vs Retargeting dan Kesalahan yang Sering Terjadi
Banyak bisnis gagal memanfaatkan kedua strategi ini karena melakukan kesalahan mendasar.
Menampilkan Iklan yang Sama Terus-Menerus
Ini kesalahan paling umum dalam retargeting.
Calon pelanggan yang melihat iklan identik selama berminggu-minggu biasanya justru kehilangan minat.
Karena itu, variasi kreatif sangat penting.
Gunakan:
- format video,
- carousel,
- testimonial,
- atau promo berbeda.
Dengan demikian, audiens tidak cepat bosan.
Mengirim Email Terlalu Sering
Dalam remarketing, terlalu sering mengirim email bisa membuat pelanggan merasa terganggu.
Akibatnya:
- unsubscribe meningkat,
- open rate turun,
- dan reputasi domain email memburuk.
Frekuensi komunikasi harus diatur secara seimbang.
Tidak Memisahkan Audiens
Kesalahan lainnya adalah memperlakukan semua audiens dengan cara yang sama.
Padahal:
- orang yang baru melihat homepage,
- orang yang meninggalkan keranjang belanja,
- dan pelanggan lama
memiliki kebutuhan berbeda.
Karena itu, segmentasi sangat penting dalam kedua strategi ini.
Remarketing vs Retargeting untuk Bisnis Kecil
Banyak UMKM berpikir strategi ini hanya cocok untuk perusahaan besar. Padahal, bisnis kecil justru bisa sangat terbantu.
Misalnya:
- toko online lokal,
- jasa desain,
- klinik kecantikan,
- kursus online,
- hingga usaha makanan rumahan.
Dengan retargeting sederhana, bisnis kecil bisa mengingatkan calon pelanggan yang belum jadi membeli.
Sementara itu, remarketing membantu menjaga pelanggan lama agar tetap kembali.
Bahkan dengan anggaran kecil, hasilnya bisa lebih efektif dibanding terus mencari audiens baru dari nol.
Remarketing vs Retargeting dan Peran Data Pelanggan
Di era digital modern, data menjadi aset paling berharga.
Semakin baik bisnis memahami perilaku pelanggan, semakin efektif strategi pemasaran yang bisa dilakukan.
Karena itu:
- tracking perilaku pengguna,
- analisis kebiasaan belanja,
- hingga segmentasi pelanggan
menjadi bagian penting dalam remarketing maupun retargeting.
Namun, penggunaan data juga harus memperhatikan privasi pengguna.
Banyak negara kini menerapkan aturan ketat terkait cookie dan data pribadi. Oleh sebab itu, transparansi menjadi semakin penting.
Bisnis yang terlalu agresif memanfaatkan data tanpa izin dapat kehilangan kepercayaan pelanggan.
Remarketing vs Retargeting dan Masa Depan Digital Marketing
Dunia pemasaran digital terus berubah.
Cookie pihak ketiga mulai dibatasi, privasi pengguna semakin diperhatikan, dan algoritma iklan terus berkembang.
Akibatnya, strategi remarketing dan retargeting juga ikut berubah.
Ke depan, pendekatan yang lebih personal dan berbasis consent kemungkinan akan menjadi standar baru.
Bisnis tidak lagi cukup hanya “mengejar” pelanggan dengan iklan. Mereka harus menciptakan pengalaman yang relevan, membantu, dan tidak terasa memaksa.
Selain itu, artificial intelligence mulai memainkan peran besar dalam menentukan:
- waktu terbaik menampilkan iklan,
- jenis pesan paling efektif,
- hingga prediksi perilaku pelanggan.
Dengan teknologi ini, strategi pemasaran menjadi jauh lebih presisi dibanding beberapa tahun lalu.
Remarketing vs Retargeting: Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Jawabannya bukan memilih salah satu.
Strategi terbaik justru sering berasal dari kombinasi keduanya.
Retargeting membantu menarik kembali perhatian calon pelanggan yang belum mengambil keputusan.
Sementara itu, remarketing membantu membangun hubungan jangka panjang agar pelanggan tetap loyal.
Jika bisnis hanya fokus mencari pelanggan baru tanpa menjaga pelanggan lama, biaya pemasaran akan terus meningkat.
Sebaliknya, jika hanya fokus pada pelanggan lama tanpa memperluas pasar, pertumbuhan bisnis bisa melambat.
Karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama.
Dalam praktiknya:
- gunakan retargeting untuk meningkatkan konversi cepat,
- lalu gunakan remarketing untuk mempertahankan hubungan jangka panjang.
Dengan strategi yang tepat, keduanya dapat bekerja saling melengkapi dan menghasilkan dampak besar terhadap pertumbuhan bisnis digital modern.


Leave a Reply